Friday, 15 May 2020

Siapakah Manusia Itu? Part 1

Siapakah manusia itu? Ini adalah sebuah pertanyaan yang mempunyai berbagai macam pandangan dan pendekatan. Menurut ilmu psikologi, manusia adalah makhluk yang mempunyai tujuan hidup dan kemampuan untuk menentukan arah hidupnya. Berdasarkan pandangan filsafat Aristoteles, manusia adalah Zoon Politicon, yaitu makhluk yang berkumpul dan berpolitik. Menurut ilmu sains, manusia adalah hasil evolusi, yaitu perubahan secara progresif dalam jangka
waktu yang lama. Spesies Homo sapiens berasal dari monyet, sehingga diletakkan di ordo Primata dan family Hominidae, yang sama dengan monyet-monyet lainnya. Lalu, bagaimana menurut pandangan kitab suci? Siapakah manusia itu?

Menurut pandangan dari Alkitab, manusia itu lebih dari ini semua. Manusia tidak hanya makhluk yang bertujuan, mempunyai keadaan fisik yang hewani, dan bersosialisasi atau berpolitik. Manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan tujuan hidupnya yang agung, yaitu untuk memuliakan Allah. Manusia ditugaskan oleh Allah untuk memelihara ciptaanNya, dengan berkuasa atas mereka (Kejadian 1:28). Manusia juga diberikan akal budi sehingga mereka dapat berinteraksi dan memberi nama atas ciptaanNya (Kejadian 2:20), dan juga hati nurani, sehingga mereka memiliki perasaan, memiliki kemampuan untuk berbuat baik dan memuliakan Allah. Ini semua membuktikan, bahwa manusia mempunyai sifat-sifat ilahi, yang mencirikan diri mereka sebagai gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26).

Bukti alkitabiah yang lain terkait hal ini, terdapat di dalam diri manusia itu sendiri. Manusia mempunyai tiga hypostasis atau tiga dasar, yaitu keberadaan diri, perkataan, dan roh. Manusia memiliki identitas yang tersimpan di dalam hati nurani dan pikiran manusia, dan identitas itu adalah siapakah manusia itu. Identitas ini tidak dapat diketahui oleh siapapun, tanpa Allah sendiri yang menyatakannya, karena manusia telah jatuh dalam dosa dan buta akan kebenaran yang sejati. Manusia juga memiliki hikmat, sehingga manusia memiliki daya cipta, rasa, dan karsa. Manusia juga memiliki roh, yang membuatnya hidup, dan roh ini dihembuskan oleh Allah kepada diri manusia semenjak manusia diciptakanNya, dan semenjak kita hidup sebagai zigot. Ketiga hal ini adalah atribut dalam diri Allah Tritunggal. Allah memiliki Eksistensi yang tidak dapat dilihat oleh siapapun, dan Eksistensi ini menjadikan segala sesuatu. Allah memiliki Firman (Logos), yang melaluiNya Sang Eksistensi menciptakan segala sesuatu, dan Ia bersama-sama dengan Sang Eksistensi semenjak kekekalan. Allah juga memiliki Roh(Pneuma), Roh yang merupakan sumber kehidupan di dalam Diri Allah, dan melaluiNya, segala sesuatu hidup dan terpelihara dengan sungguh amat baik. Eksistensi ini merujuk pada Sang Bapa, Firman merujuk pada Sang Anak Tunggal Bapa, dan Roh merujuk pada Roh Kudus. Manusia sebagai Gambar dan Rupa Allah merepresentasikan ketiga hypostasis Allah.

Akan tetapi, hypostasis kita berbeda dengan hypostasis Allah. Masing-masing hypostasis Allah berpribadi, karena Allah adalah Satu Esensi. Bila Satu Hipostasis berpribadi, maka Hipostasis-hipostasis lainnya juga berpribadi. Sehingga, dapat kita katakan, bahwa Allah memiliki Tiga Pribadi. Sedangkan, hypostasis kita itu tiga di dalam satu pribadi, bukan tiga di dalam tiga pribadi. Mengapakah Allah harus Tiga Pribadi? Karena seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Allah memiliki satu Esensi, yaitu Satu Hakikat dasar sebagai Sang Pencipta Yang Kekal, dan juga Allah adalah kasih. Tanpa tiga pribadi, tidak ada yang namanya kasih, karena kasih mengalir dari interaksi antara Satu Pribadi dengan Pribadi lain semenjak kekekalan hingga kekekalan. Karena Allah mengasihi satu dengan yang lain, maka terciptalah relasi. Istilah Bapa, Anak, dan Roh Kudus menunjukkan relasi yang intim antara Satu Pribadi dengan Pribadi lainnya.

Hipostasis-hipostasis kita terbatas, sangat terbatas, sehingga berada di dalam satu pribadi. Ini jelas menunjukkan bahwa manusia adalah gambar dan rupa Allah, dimana istilah gambar dan rupa ini adalah satu paket, yang menunjukkan bahwa diri manusia menggambarkan Allah. Gambar tidak dapat menunjukkan seluruh bagian dari yang dilukis. Misalkan gambar pohon. Gambar pohon tidak dapat menunjukkan setiap iota struktur pohon tersebut, dan demikian jugalah dengan gambar Allah. Gambar Allah tidak bersifat tidak terbatas seperti halnya Allah, namun terbatas sebagai halnya ciptaan. Ketiga hypostasis manusia merepresentasikan ketiga hypostasis Allah secara garis besar, dan oleh karena itulah manusia adalah gambar Allah.

Sebagai kesimpulan, manusia adalah gambar dan rupa Allah, karena manusia mempunyai sifat-sifat ilahi. Manusia diciptakan dari materi, oleh Allah, dan untuk kemuliaan Allah. Soli Deo Gloria!

Sumber:

1. https://www.greekorthodox.org.au/?page_id=3356

2. Membangun Pribadi Berkarakter Mulia, Joel Betakore dan Cherly Naray, Depok, Universitas Indonesia, 21

3. The Institutes of Christian Religion, John Calvin, Michigan, Calvin College , 944

1 comment:

  1. Shalom bapak, ibu dan saudara/i yang dikasihi oleh Tuhan. Apakah ada diantara bapak, ibu maupun saudara/i yang pernah mendengar tentang Shema Yisrael dan V'ahavta? Kalimat pernyataan keesaan YHWH ( Adonai/ Hashem ) dan perintah untuk mengasihiNya yang dapat kita temukan dalam Ulangan/ דברים/ Devarim 6 : 4 - 5 yang juga pernah dikutip oleh Yeshua/ ישוע/ Yesus di dalam Injil khususnya dalam Markus 12 : 29 - 31( juga di Matius 22 : 37 - 39 dan Lukas 10 : 27 ), sementara perintah untuk mengasihi sesama manusia dapat kita temukan dalam Imamat/ ויקרא/ Vayikra 19 : 18. Mari kita pelajari cara membacanya satu-persatu seperti yang akan dijabarkan di bawah ini :

    Ulangan/ דברים/ Devarim 6 : 4 - 5, " שְׁמַ֖ע יִשְׂרָאֵ֑ל יְהֹוָ֥ה אֱלֹהֵ֖ינוּ יְהֹוָ֥ה ׀ אֶחָֽד׃. וְאָ֣הַבְתָּ֔ אֵ֖ת יְהֹוָ֣ה אֱלֹהֶ֑יךָ בְּכׇל־לְבָבְךָ֥ וּבְכׇל־נַפְשְׁךָ֖ וּבְכׇל־מְאֹדֶֽךָ׃. "

    [ Cara membacanya dengan mengikuti aturan tata bahasa Ibrani yang berlaku, " Shema Yisrael! YHWH [ Adonai ] Eloheinu, YHWH [ Adonai ] ekhad. V'ahavta e YHWH [ Adonai ] Eloheikha bekol levavkha uvkol nafshekha uvkol me'odekha ]

    Imamat/ ויקרא/ Vayikra 19 : 18, " וְאָֽהַבְתָּ֥ לְרֵעֲךָ֖ כָּמ֑וֹךָ. "

    [ Cara membacanya dengan mengikuti aturan tata bahasa Ibrani yang berlaku, " V'ahavta l'reakha kamokha " ]

    Untuk artinya dapat dilihat pada Alkitab LAI.

    Diucapkan juga kalimat berkat seperti ini setelah diucapkannya Shema

    " . בָּרוּךְ שֵׁם כְּבוֹד מַלְכוּתוֹ לְעוֹלָם וָעֶד. "
    ( Barukh Shem kevod malkuto, le'olam va'ed, artinya Diberkatilah Nama yang mulia, KerajaanNya untuk selamanya )
    🕎✡️🐟🤚🏻👁️📜✍🏼🕯️❤️🤴🏻👑🗝️🛡️🗡️🏹⚖️⚓🕍✝️🗺️🌫️☀️🌒⚡🌈🌌🔥💧🌊🌬️❄️🌱🌾🍇🍎🍏🌹🍷🥛🍯🦁🦅🐂🐏🐑🐎🦌🐪🕊️🐍₪🇮🇱

    ReplyDelete