Friday, 15 May 2020

Soteriologi: Doktrin Predestinasi Pt. 2


Monergia vs Sinergia
1. Monergia adalah paham dimana Allah berperan secara aktif untuk menyelamatkan manusia karena mereka tidak sanggup menyelamatkan diri dari hukuman dosa. Sedangkan, sinergia adalah paham dimana Allah dan manusia sama sama berperan aktif dalam keselamatan, dimana Allah "mengetuk pintu hati manusia" dan manusia "membukakannya bagi Allah".
2. Doktrin monergia didukung oleh banyak pasal dalam alkitab, demikian juga sinergia. Kedua hal ini selalu didebatkan dari dulu sampai saat ini.
3. Dogma monergia dipaparkan secara jelas dalam Efesus 2:8-9, Roma 8:29, Yohanes 6:44, dan masih banyak lagi, sedangkan sinergia dijelaskan dalam 2 Tesalonika 2:15, Filipi 2:12, 1 Korintus 3:9, dan masih banyak lagi.
4. Namun, bilamana kita lihat dari ayat-ayat rujukan sinergia, kita sebenarnya dapat menemukan ketimpangan, yaiti sebagai berikut:

• Filipi 2:12 (TB) Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir. 
Bilamana kita memahami ayat ini sebagai keselamatan adalah proses semata, dimana Allah menyelamatkan kita dan manusia sanggup meresponinya dalam bentuk usaha, kita membantah ayat selanjutnya, yang menyatakan bahwa Allahlah yang mengerjakan keselamatan itu dalam diri kita. Kita juga menentang kitab Roma, yang jelas mengatakan bahwa manusia tidak dapat berbuat benar, bahkan mempercayai Allah yang benar pun tidak.

• 2 Tesalonika 2:15 (TB) Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran (paradosis/tradisi) yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis. 
Bilamana kita memahami ayat ini sebagai perintah kepada kita untuk menjalankan tradisi bagi keselamatan kita, maka kita menentang seluruh perikopnya. Bacalah 2 tesalonika 2:13-17 dengan teliti, maka kita akan menemukan kalau kita telah diselamatkan, baru menjalankan ini semua. (Bukti => 2 Tesalonika 2:13 (TB) Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai. )

• 1 Korintus 3:9 (TB) Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah. 
Kata kawan sekerja Allah dalam bahasa asli ialah synergoi. Sinergia ini tidak berarti kita selamat dengan sinergia, melainkan karena kita sudah selamatlah maka kita dimampukan untuk bersinergia dengan Allah. Mengapa demikian? Karena surat ini ditujukan kepada umat percaya, yaitu mereka yang telah diselamatkan dalam Yesus Kristus. Selain itu, perikop ini disampaikan dengan tujuan mengatasi perselisihan yang terjadi dalam Gereja Perdana.

5. Dalam hal keselamatan, Allah memberikannya kepada kita secara monergia, maka itu setelah selamat, kita disanggupkan untuk mengerjakannya dengan takut akan Allah. Mengerjakan keselamatan yang telah Allah anugrahkan kepada kita ialah bukti kita sebagai synergoi Allah. Kita bersinergia bukan untuk selamat, tetapi karena sudah selamat, sebab Allah mengerjakannya di dalam kita melalui Roh KudusNya, dan pekerjaanNya pastilah berhasil. Ingat, tidak ada sesuatupun yang dapat benar-benar memisahkan kita dari kasih Yesus Kristus, Pribadi dan Hipostasis Kedua Allah Tritunggal (Roma 8:35-39).

Soteriologi: Doktrin Predestinasi Bagian 1



Doktrin predestinasi adalah doktrin yang sangat kontroversial dalam iman kristen. Alkitab menyatakan, bahwa tidak ada satupun hal yang terjadi diluar kehendak Allah, termasuk keselamatan manusia. Keselamatan adalah anugrah yang diberikan Allah atas diri manusia (Efesus 2:8-10). Hal ini dikarenakan, manusia tidak dapat melakukan apapun untuk menyelamatkan dirinya, sebab mereka semua telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23).

Keselamatan manusia telah ditentukan Allah sejak semula (roma 8:29), termasuk mereka yang selamat dan mereka yang tidak selamat. Dalam Yohanes 6:44 dan 8:47, Yesus menerangkan bahwa ada yang berasal dari Allah dan ada juga yang tidak berasal dari Allah. Ia juga menjelaskan hal ini dalam perumpamaanNya mengenai gandum dan ilalang (Matius 13:24-30), serta domba dan kambing (Matius 25:33). Perbedaan tersebut terjadi, karena Allah telah memilih domba-dombaNya/umat pilihanNya sejak semula (Roma 8:29-30), dan Ia telah mengutus Anak-Nya untuk mati bagi mereka (Yohanes 10:11,15). 

Maksud dari domba dalam Yohanes 10 ialah mereka yang benar-benar umatNya. Umat yang dipilihNya itu mewakili seluruh dunia, maka St. Paulus mencatat bahwa Yesus mati bagi "semua orang" (2 Korintus 5:15). Frasa "semua orang" bukan literally semua orang. Kita dapat melihatnya dari bahasa asli yang dipakai pada 2 Korintus 5:15.

2 Korintus 5:15 (TB) Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.

"All"/"semua" disini menggunakan kata "pantõn", yang mempunyai makna-makna berikut.
Terdapat makna "every" di sini, dan makna tersebut cocok untuk menjelaskan "all". Artinya ialah, Allah menebus setiap umat yang dipilihNya dari segala tempat dan zaman. Ciri-ciri dari mereka yang ditebus: Mereka hidup untuk Dia, yang bangkit di antara orang mati. Ini semakin memperjelas bahwa makna kata "semua" ini bukanlah makna yang literal, karena hanya umat pilihanlah yang mengenal-Nya (Yohanes 10:27), dan bagi merekalah Kristus menyerahkan Nyawa-Nya (Yohanes 10:11 dan 15).

Jadi, Allah tidak mati bagi semua orang (kambing+domba). Ia hanya mati bagi mereka yang dipilihNya sejak kekekalan. 


Apakah Allah mengasihi umat bukan pilihan?
Jawabannya adalah iya. Ia tetap mengasihi mereka, sehingga Ia memberikan anugrah umum bagi mereka, seperti nafas hidup, kebijaksanaan, pengetahuan, dan lain sebagainya. Ia juga menyinari mentari dan menurunkan hujan bagi orang benar dan orang fasik. 

Namun, orang fasik adalah orang yang tidak pernah ingin mengenal Allah. Mereka bersikeras untuk menolak Allah, sekalipun mereka pernah mendengar tentang Dia. Hal ini dikarenakan mereka tidak mengalami anugrah khusus, yaitu anugrah penebusan Yesus, yang diperuntukkan bagi domba-dombaNya. 

Keselamatan itu anugrah karena tidak semua orang mendapatkannya. Tidak semua orang juga diselamatkanNya dari hukuman kekal, karena yang namanya dosa tetap harus dihukum. Hukuman final atas dosa belum dilaksanakan Allah saat ini, melainkan ketika Yesus datang untuk kedua kalinya. Disanalah, Anak Allah akan memisahkan domba-dombaNya dari para kambing, lalu memberi mereka mahkota kehidupan.

Siapakah Manusia Itu? Part 1

Siapakah manusia itu? Ini adalah sebuah pertanyaan yang mempunyai berbagai macam pandangan dan pendekatan. Menurut ilmu psikologi, manusia adalah makhluk yang mempunyai tujuan hidup dan kemampuan untuk menentukan arah hidupnya. Berdasarkan pandangan filsafat Aristoteles, manusia adalah Zoon Politicon, yaitu makhluk yang berkumpul dan berpolitik. Menurut ilmu sains, manusia adalah hasil evolusi, yaitu perubahan secara progresif dalam jangka
waktu yang lama. Spesies Homo sapiens berasal dari monyet, sehingga diletakkan di ordo Primata dan family Hominidae, yang sama dengan monyet-monyet lainnya. Lalu, bagaimana menurut pandangan kitab suci? Siapakah manusia itu?

Menurut pandangan dari Alkitab, manusia itu lebih dari ini semua. Manusia tidak hanya makhluk yang bertujuan, mempunyai keadaan fisik yang hewani, dan bersosialisasi atau berpolitik. Manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan tujuan hidupnya yang agung, yaitu untuk memuliakan Allah. Manusia ditugaskan oleh Allah untuk memelihara ciptaanNya, dengan berkuasa atas mereka (Kejadian 1:28). Manusia juga diberikan akal budi sehingga mereka dapat berinteraksi dan memberi nama atas ciptaanNya (Kejadian 2:20), dan juga hati nurani, sehingga mereka memiliki perasaan, memiliki kemampuan untuk berbuat baik dan memuliakan Allah. Ini semua membuktikan, bahwa manusia mempunyai sifat-sifat ilahi, yang mencirikan diri mereka sebagai gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26).

Bukti alkitabiah yang lain terkait hal ini, terdapat di dalam diri manusia itu sendiri. Manusia mempunyai tiga hypostasis atau tiga dasar, yaitu keberadaan diri, perkataan, dan roh. Manusia memiliki identitas yang tersimpan di dalam hati nurani dan pikiran manusia, dan identitas itu adalah siapakah manusia itu. Identitas ini tidak dapat diketahui oleh siapapun, tanpa Allah sendiri yang menyatakannya, karena manusia telah jatuh dalam dosa dan buta akan kebenaran yang sejati. Manusia juga memiliki hikmat, sehingga manusia memiliki daya cipta, rasa, dan karsa. Manusia juga memiliki roh, yang membuatnya hidup, dan roh ini dihembuskan oleh Allah kepada diri manusia semenjak manusia diciptakanNya, dan semenjak kita hidup sebagai zigot. Ketiga hal ini adalah atribut dalam diri Allah Tritunggal. Allah memiliki Eksistensi yang tidak dapat dilihat oleh siapapun, dan Eksistensi ini menjadikan segala sesuatu. Allah memiliki Firman (Logos), yang melaluiNya Sang Eksistensi menciptakan segala sesuatu, dan Ia bersama-sama dengan Sang Eksistensi semenjak kekekalan. Allah juga memiliki Roh(Pneuma), Roh yang merupakan sumber kehidupan di dalam Diri Allah, dan melaluiNya, segala sesuatu hidup dan terpelihara dengan sungguh amat baik. Eksistensi ini merujuk pada Sang Bapa, Firman merujuk pada Sang Anak Tunggal Bapa, dan Roh merujuk pada Roh Kudus. Manusia sebagai Gambar dan Rupa Allah merepresentasikan ketiga hypostasis Allah.

Akan tetapi, hypostasis kita berbeda dengan hypostasis Allah. Masing-masing hypostasis Allah berpribadi, karena Allah adalah Satu Esensi. Bila Satu Hipostasis berpribadi, maka Hipostasis-hipostasis lainnya juga berpribadi. Sehingga, dapat kita katakan, bahwa Allah memiliki Tiga Pribadi. Sedangkan, hypostasis kita itu tiga di dalam satu pribadi, bukan tiga di dalam tiga pribadi. Mengapakah Allah harus Tiga Pribadi? Karena seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Allah memiliki satu Esensi, yaitu Satu Hakikat dasar sebagai Sang Pencipta Yang Kekal, dan juga Allah adalah kasih. Tanpa tiga pribadi, tidak ada yang namanya kasih, karena kasih mengalir dari interaksi antara Satu Pribadi dengan Pribadi lain semenjak kekekalan hingga kekekalan. Karena Allah mengasihi satu dengan yang lain, maka terciptalah relasi. Istilah Bapa, Anak, dan Roh Kudus menunjukkan relasi yang intim antara Satu Pribadi dengan Pribadi lainnya.

Hipostasis-hipostasis kita terbatas, sangat terbatas, sehingga berada di dalam satu pribadi. Ini jelas menunjukkan bahwa manusia adalah gambar dan rupa Allah, dimana istilah gambar dan rupa ini adalah satu paket, yang menunjukkan bahwa diri manusia menggambarkan Allah. Gambar tidak dapat menunjukkan seluruh bagian dari yang dilukis. Misalkan gambar pohon. Gambar pohon tidak dapat menunjukkan setiap iota struktur pohon tersebut, dan demikian jugalah dengan gambar Allah. Gambar Allah tidak bersifat tidak terbatas seperti halnya Allah, namun terbatas sebagai halnya ciptaan. Ketiga hypostasis manusia merepresentasikan ketiga hypostasis Allah secara garis besar, dan oleh karena itulah manusia adalah gambar Allah.

Sebagai kesimpulan, manusia adalah gambar dan rupa Allah, karena manusia mempunyai sifat-sifat ilahi. Manusia diciptakan dari materi, oleh Allah, dan untuk kemuliaan Allah. Soli Deo Gloria!

Sumber:

1. https://www.greekorthodox.org.au/?page_id=3356

2. Membangun Pribadi Berkarakter Mulia, Joel Betakore dan Cherly Naray, Depok, Universitas Indonesia, 21

3. The Institutes of Christian Religion, John Calvin, Michigan, Calvin College , 944

Thursday, 2 April 2020

Hamartiologi Pt.1

Apa itu dosa?

Dalam bahasa Yunani, terdapat dua kata yang menjelaskan apa dosa itu, yaitu Hamartia dan Amartema. Hamartia mempunyai arti "to miss the mark" atau meleset dari sasaran, sedangkan Amartema berarti perbuatan yang berdosa. Kedua kata ini merujuk pada hakikat dosa. Hamartia merujuk pada dosa sebagai suatu kondisi, sedangkan hamartema pada dosa sebagai suatu perbuatan/action.

Disini, kita dapat melihat bahwa dosa dapat berupa kondisi dan perbuatan. Dosa, sebagai kondisi, dimiliki seluruh umat manusia, dan hal ini tercatat dalam roma 3:23.

 

[ Have sinned disini menggunakan kata Hēmarton yang bersifat present perfect (dari dulu sampai saat ini, kondisi subjek ialah demikian). Hēmarton merujuk pada kondisi keberdosaan atau kedagingan (hamartia), karena secara figuratif, kata ini dipakai dalam konteks tersebut. Hēmarton dan hamartia sama sama berarti "missing the mark" atau salah sasaran. ]

Berdasarkan penjelasan dalam [ ], kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada manusia yang dapat lepas dari keberdosaannya. Seluruh manusia telah berdosa, dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Kondisi ini dapat kita pandang sebagai cacat atau borok, yang telah kita dapatkan sejak berada di dalam kandungan (mazmur 51:5).

Mazmur 51:5 (TB) (51-7) Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.

Menurut Roma 5:12, dosa umat manusia diwakili oleh satu orang, yaitu Adam. Karena amartema Adam, maka muncul hamartia yang berdampak bagi seluruh umat manusia dan lingkungan hidup. Hamartia ini merusak imago dei (gambar dan rupa Allah) dalam diri kita, sehingga pikiran, perbuatan, dan perasaan kita senantiasa ber-amartema di hadapan Allah

Namun, bagaimana dengan Abraham, kok dia bisa berbuat benar di hadapan Allah? Bukannya seluruh umat manusia sudah jatuh dalam dosa, dan maka itu tidak ada seorang pun dapat berbuat hal baik dan benar di hadapan Allah?

Abraham dibenarkan oleh Allah, bukan karena perbuatannya, melainkan karena imannya kepada Allah. Demikian pula dengan mereka yang dipilih Allah sejak kekekalan. Mereka yang dipilih jugalah dibenarkanNya, karena mereka pasti atau pasti akan memiliki iman yang sejati kepada Yesus Kristus (roma 4:1-25). Iman ini adalah iman yang pasti membuahkan perbuatan baik. Bila tidak, ia bukanlah iman yang sejati (yakobus 2:14-26).


Analogi Bayi Sebagai Kertas Putih

Analogi ini dipercaya oleh Gereja Orthodox Timur. Menurut sudut pandangnya, seorang bayi sama seperti kertas putih yang tanpa noda. Ia belum berbuat dosa sama sekali, karena noda ini identik dengan perbuatan dosa atau amartema. Dengan kata lain, bayi tidak mempunyai dosa, hanya amartia/kondisi dosa.

Bilamana kita kritisi pola pikir tersebut, bayi tidak berbuat amartema, karena ia belum mengerti apa apa tentang hidup. Bayi memiliki hamartia, karena ia adalah manusia. Namun, kita harus tahu bahwa hamartia dan hamartema adalah sama sama bejat di hadapan Allah. Kedua hal ini adalah kesalahan/error yang "berbeda versi", namun mempunyai dampak yang sama, yaitu maut.

Hamartia membuat manusia buta akan kebenaran, sehingga manusia selalu salah jalan dengan berbuat hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan (amartema). Karena amartema Adam, maka terjadi hamartia manusia dan alam semesta.

Kondisi hamartia yang dimiliki manusia diibaratkan seperti suatu mesin yang rusak, yang tidak dapat menghasilkan output yang baik. Maka itu, hamartia bukanlah suatu hal yang baik, karena ia menghasilkan hal-hal buruk. Buah anggur tidak mungkin tumbuh dari pohon pisang wildtype (normally ditemukan di alam), demikian pula perbuatan baik tidak mungkin berasal dari manusia yang ber-hamartia.

Oleh karena itulah, hamartia adalah kondisi rusak di mata Allah, diibaratkan seperti kertas yang kusut atau robek. Kertas menyimbolkan mata hati manusia/nous, yang adalah titik temu dari akal budi dan hati nurani manusia. Di dalam nous, terdapat jawaban atas diri manusia sebagai gambar dan rupa Allah. Adjective kusut/robek ini menyimbolkan kondisi manusia yang nousnya sudah rusak atau cacat. Karena nous manusia sudah cacat, maka ia tidak dapat menyadari diri sebagai gambar dan rupa Allah lagi, tanpa Allah sendiri yang menyatakan hal itu kepadanya.

Selain itu, menurut ajaran orthodox timur, hamartia tidak membuat gambar Allah dalam diri manusia itu rusak total. Padahal, arti dari "rusak total" sendiri tidak sama dengan kerusakan absolut dari si jahat. Konsep rusak total menurut John Calvin ini sangatlah alkitabiah, karena maknanya ialah kondisi yang bobrok/tidak baik. Kata baik disini pun mempunyai arti yang khusus, yaitu "nilai yang benar di hadapan Allah"/ "yang menyelamatkan diri manusia". Jadi, kata "rusak total" artinya adalah kondisi manusia yang bobrok dan tidak dapat berbuat apapun yang menyelamatkannya.

Rusak total adalah kondisi yang ditawarkan oleh hamartia dalam diri setiap unat manusia. Karena hamartia, bayi tidaklah seperti kertas putih tanpa noda, melainkan kertas putih yang kusut atau sobek. Karena hamartia juga, manusia tidak dapat berbuat apapun yang benar di hadapan Allah. Maka itu, manusia butuh anugrah, dan anugrah itu adalah Yesus Kristus, jalan keselamatan kita. Ia telah menanggung siksa maut, yang sepatutnya kita semua jalankan, agar kita, umat pilihanNya, memperoleh hidup yang kekal.


Referensi:
1. https://bible.org/seriespage/55-hamartiology-doctrine-sin
2. http://www.sarapanpagi.org/dosa-definisi-vt294.html
3. https://www.biblestudytools.com/lexicons/greek/nas/hamartema.html
4. https://www.stmaryorthodoxchurch.org/orthodoxy/articles/ancestral_versus_original_sin