Thursday, 2 April 2020

Hamartiologi Pt.1

Apa itu dosa?

Dalam bahasa Yunani, terdapat dua kata yang menjelaskan apa dosa itu, yaitu Hamartia dan Amartema. Hamartia mempunyai arti "to miss the mark" atau meleset dari sasaran, sedangkan Amartema berarti perbuatan yang berdosa. Kedua kata ini merujuk pada hakikat dosa. Hamartia merujuk pada dosa sebagai suatu kondisi, sedangkan hamartema pada dosa sebagai suatu perbuatan/action.

Disini, kita dapat melihat bahwa dosa dapat berupa kondisi dan perbuatan. Dosa, sebagai kondisi, dimiliki seluruh umat manusia, dan hal ini tercatat dalam roma 3:23.

 

[ Have sinned disini menggunakan kata Hēmarton yang bersifat present perfect (dari dulu sampai saat ini, kondisi subjek ialah demikian). Hēmarton merujuk pada kondisi keberdosaan atau kedagingan (hamartia), karena secara figuratif, kata ini dipakai dalam konteks tersebut. Hēmarton dan hamartia sama sama berarti "missing the mark" atau salah sasaran. ]

Berdasarkan penjelasan dalam [ ], kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada manusia yang dapat lepas dari keberdosaannya. Seluruh manusia telah berdosa, dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Kondisi ini dapat kita pandang sebagai cacat atau borok, yang telah kita dapatkan sejak berada di dalam kandungan (mazmur 51:5).

Mazmur 51:5 (TB) (51-7) Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.

Menurut Roma 5:12, dosa umat manusia diwakili oleh satu orang, yaitu Adam. Karena amartema Adam, maka muncul hamartia yang berdampak bagi seluruh umat manusia dan lingkungan hidup. Hamartia ini merusak imago dei (gambar dan rupa Allah) dalam diri kita, sehingga pikiran, perbuatan, dan perasaan kita senantiasa ber-amartema di hadapan Allah

Namun, bagaimana dengan Abraham, kok dia bisa berbuat benar di hadapan Allah? Bukannya seluruh umat manusia sudah jatuh dalam dosa, dan maka itu tidak ada seorang pun dapat berbuat hal baik dan benar di hadapan Allah?

Abraham dibenarkan oleh Allah, bukan karena perbuatannya, melainkan karena imannya kepada Allah. Demikian pula dengan mereka yang dipilih Allah sejak kekekalan. Mereka yang dipilih jugalah dibenarkanNya, karena mereka pasti atau pasti akan memiliki iman yang sejati kepada Yesus Kristus (roma 4:1-25). Iman ini adalah iman yang pasti membuahkan perbuatan baik. Bila tidak, ia bukanlah iman yang sejati (yakobus 2:14-26).


Analogi Bayi Sebagai Kertas Putih

Analogi ini dipercaya oleh Gereja Orthodox Timur. Menurut sudut pandangnya, seorang bayi sama seperti kertas putih yang tanpa noda. Ia belum berbuat dosa sama sekali, karena noda ini identik dengan perbuatan dosa atau amartema. Dengan kata lain, bayi tidak mempunyai dosa, hanya amartia/kondisi dosa.

Bilamana kita kritisi pola pikir tersebut, bayi tidak berbuat amartema, karena ia belum mengerti apa apa tentang hidup. Bayi memiliki hamartia, karena ia adalah manusia. Namun, kita harus tahu bahwa hamartia dan hamartema adalah sama sama bejat di hadapan Allah. Kedua hal ini adalah kesalahan/error yang "berbeda versi", namun mempunyai dampak yang sama, yaitu maut.

Hamartia membuat manusia buta akan kebenaran, sehingga manusia selalu salah jalan dengan berbuat hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan (amartema). Karena amartema Adam, maka terjadi hamartia manusia dan alam semesta.

Kondisi hamartia yang dimiliki manusia diibaratkan seperti suatu mesin yang rusak, yang tidak dapat menghasilkan output yang baik. Maka itu, hamartia bukanlah suatu hal yang baik, karena ia menghasilkan hal-hal buruk. Buah anggur tidak mungkin tumbuh dari pohon pisang wildtype (normally ditemukan di alam), demikian pula perbuatan baik tidak mungkin berasal dari manusia yang ber-hamartia.

Oleh karena itulah, hamartia adalah kondisi rusak di mata Allah, diibaratkan seperti kertas yang kusut atau robek. Kertas menyimbolkan mata hati manusia/nous, yang adalah titik temu dari akal budi dan hati nurani manusia. Di dalam nous, terdapat jawaban atas diri manusia sebagai gambar dan rupa Allah. Adjective kusut/robek ini menyimbolkan kondisi manusia yang nousnya sudah rusak atau cacat. Karena nous manusia sudah cacat, maka ia tidak dapat menyadari diri sebagai gambar dan rupa Allah lagi, tanpa Allah sendiri yang menyatakan hal itu kepadanya.

Selain itu, menurut ajaran orthodox timur, hamartia tidak membuat gambar Allah dalam diri manusia itu rusak total. Padahal, arti dari "rusak total" sendiri tidak sama dengan kerusakan absolut dari si jahat. Konsep rusak total menurut John Calvin ini sangatlah alkitabiah, karena maknanya ialah kondisi yang bobrok/tidak baik. Kata baik disini pun mempunyai arti yang khusus, yaitu "nilai yang benar di hadapan Allah"/ "yang menyelamatkan diri manusia". Jadi, kata "rusak total" artinya adalah kondisi manusia yang bobrok dan tidak dapat berbuat apapun yang menyelamatkannya.

Rusak total adalah kondisi yang ditawarkan oleh hamartia dalam diri setiap unat manusia. Karena hamartia, bayi tidaklah seperti kertas putih tanpa noda, melainkan kertas putih yang kusut atau sobek. Karena hamartia juga, manusia tidak dapat berbuat apapun yang benar di hadapan Allah. Maka itu, manusia butuh anugrah, dan anugrah itu adalah Yesus Kristus, jalan keselamatan kita. Ia telah menanggung siksa maut, yang sepatutnya kita semua jalankan, agar kita, umat pilihanNya, memperoleh hidup yang kekal.


Referensi:
1. https://bible.org/seriespage/55-hamartiology-doctrine-sin
2. http://www.sarapanpagi.org/dosa-definisi-vt294.html
3. https://www.biblestudytools.com/lexicons/greek/nas/hamartema.html
4. https://www.stmaryorthodoxchurch.org/orthodoxy/articles/ancestral_versus_original_sin

No comments:

Post a Comment